Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan Kurikulum Sebelumnya

  • 3 min read
  • Apr 15, 2022

Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan Kurikulum Sebelumnya

Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan Kurikulum Sebelumnya. Apakah Anda tahu kalau mulai tahun ajaran 2022/2023 para pelajar di SMA/sederajat tidak akan dikotak-kotakkan lagi berdasar peminatan IPA, IPS, maupun bahasa? Ya, ini karena adanya kurikulum merdeka belajar yang diatur dalam Keputusan Mendikbud Ristek No. 162/M/2021 tentang Sekolah Penggerak.
Lalu, seperti apa gambaran umum penerapan kurikulum merdeka ini? Apa perbedaannya dengan kurikulum sebelumnya? Apakah hanya akan diterapkan bagi pelajar di tingkat SMA saja, atau juga di tingkat lainnya? Apakah ini juga akan benar-benar menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia? Mari kita simak ulasan ini lebih lanjut.

perbedaan kurikulum merdeka dengan kurikulum sebelumnya
perbedaan kurikulum merdeka dengan kurikulum sebelumnya

Apa Itu Kurikulum Merdeka?

Menurut BSNP atau Badan Standar Nasional Pendidikan, pengertian kurikulum merdeka belajar yaitu suatu kurikulum pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Di sini, para pelajar (baik peserta didik maupun mahapeserta didik) dapat memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai dengan bakat dan minatnya.

Kurikulum atau program Merdeka Belajar ini diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim sebagai bentuk dari tindak evaluasi perbaikan Kurikulum 2013.

Sebelumnya, kurikulum ini juga disebut sebagai Kurikulum Prototipe yang merupakan salah satu bagian dari upaya pemerintah untuk mencetak generasi penerus yang lebih kompeten dalam berbagai bidang.

Kurikulum Prototipe yaitu bentuk sederhana dari Kurikulum 2013 dengan sistem pembelajaran berbasis pada proyek tertentu (Project Based Learning).

Dimulai sejak tahun 2020 pada masa pandemi COVID-19, implementasi Kurikulum Merdeka Belajar atau Kurikulum Prototipe ini telah diujicobakan pada setidaknya 2500 sekolah penggerak dan juga SMK Pusat Keunggulan yang ada di Indonesia.

Hasilnya, sekolah-sekolah yang telah menerapkan kurikulum ini terbukti empat sampai lima bulan lebih maju dibanding sekolah lain yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum 2013.

Dengan begitu, pemerintah pun berupaya mengembangkan kurikulum ini secara lebih lanjut demi penyesuaian strategi belajar di masa pandemi COVID-19. Peluncuran kurikulum merdeka juga diiringin dengan peluncuran platform Merdeka Mengajar sebagai dukungannya.

Platform Merdeka Mengajar merupakan platform edukasi yang dapat menjadi teman penggerak untuk guru dan kepala sekolah yang mesti diunduh terlebih dahulu melalui gawai Android. Platform ini menjadi langkah lanjutan dari upaya transformasi pendidikan berbasis digital di Indonesia, serta disediakan untuk menjadi teman penggerak bagi guru dalam mengajar, belajar, dan berkarya.

Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan Kurikulum Sebelumnya

Mulai tahun ajaran 2022/2023, penerapan Kurikulum Merdeka ini tidak hanya akan dikhususkan pada satuan pendidikan tingkat SMA/sederajat saja. Namun, kurikulum ini juga bisa mulai digunakan pada tingkat lainnya, seperti TK, SD, SMP, hingga Perguruan Tinggi (PT). Tentunya, penerapan kurikulum ini memiliki perbedaan pada masing-masing jenjang.

Kurikulum Merdeka SD

Sebelum membahas perbedaan kurikulum ini di tingkat SD, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Merdeka Belajar di tingkat PAUD/TK maknanya yaitu merdeka untuk bermain.

Dengan begitu, penerapan Kurikulum Merdeka di tingkat PAUD/TK yaitu dengan mengajak anak bermain sambil belajar, tidak terlalu berbeda dengan kurikulum sebelumnya.

Sementara itu, di tingkat SD, ada beberapa perbedaan dalam hal mata pelajaran (mapel) pada penerapan Kurikulum Merdeka. Di antaranya yaitu penggabungan mapel IPA dan IPS menjadi satu (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), serta menjadikan bahasa Inggris yang sebelumnya merupakan mapel muatan lokal (mulok) sebagai mapel pilihan.

Kurikulum Merdeka SMP

Hampir sama dengan tingkat SD, Panduan Kurikulum Merdeka Belajar di tingkat SMP juga terdapat perubahan status beberapa mapel. Misalnya, mapel Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) menjadi mapel wajib. Pada kurikulum sebelumnya, mapel ini hanya sebagai pilihan. Maka, kelak di semua jenjang SMP, wajib memiliki mapel Informatika.

Kurikulum Merdeka SMA atau SMK

Untuk tingkat SMA, seperti yang telah disinggung di awal, penggunaan Kurikulum Merdeka memungkinkan para peserta didik tidak akan lagi dibeda-bedakan dengan berbagai peminatan, seperti IPA, IPS, maupun Bahasa.

Sementara itu, di tingkat SMK, model pembelajaran akan dibuat menjadi lebih sederhana, yaitu 70 persen mapel kejuruan dan 30 persen mapel umum.

Selain itu, pada akhir masa pendidikannya kelak, para peserta didik dituntut untuk menyelesaikan suatu esai ilmiah sebagaimana para mahapeserta didik yang harus menyelesaikan tugas akhir atau skripsi saat akan lulus studi. Hal ini demi mengasah kemampuan para peserta didik untuk dapat berpikir kritis, ilmiah, dan analitis.

Kurikulum Merdeka PT

Kurikulum Merdeka Belajar Perguruan Tinggi terwujud dalam Program Kampus Merdeka. Pelaksanaannya pun memiliki beberapa perbedaan dengan penerapan kurikulum sebelumnya.

Dalam Program Kampus Merdeka, mahapeserta didik diberi kesempatan untuk mempelajari sesuatu di luar program studi yang ditempuhnya. Hal ini bisa dilakukan melalui beberapa cara, seperti praktik kerja (magang), pertukaran mahapeserta didik, penelitian, proyek independen, wirausaha, menjadi asisten pengajar, juga Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik untuk membangun desa.

Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum Merdeka Belajar

Dalam setiap penerapan kebijakan, tentu ada kelebihan dan kekurangan yang senantiasa mengiringi. Demikian halnya dengan penerapan Kurikulum Merdeka pada berbagai tingkat satuan pendidikan.

Kelebihan yang paling mencolok dari penerapan kurikulum ini yaitu adanya proyek tertentu yang harus dilakukan oleh para peserta didik sehingga dapat membuat mereka menjadi lebih aktif dalam upaya mengeksplorasi diri. Selain itu, kurikulum ini juga lebih interaktif dan relevan mengikuti perkembangan zaman.

Meski begitu, penerapan Kurikulum Merdeka tak lepas dari berbagai kekurangan. Misalnya, persiapan penggunaan kurikulum ini dinilai masih belum matang. Hal ini terlihat dari masih kurangnya kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan kurikulum ini.

Demikian ulasan mengenai Kurikulum Merdeka Belajar. Mudah-mudahan dapat memberikan informasi pengetahuan baru bagi Anda semuanya sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari demi dapat mendukung lancarnya penerapan kurikulum pembelajaran di negeri ini.