Contoh Ceramah Ramadhan Singkat Praktis Dan Lucu

Anda Suka? Klik atau Bagikan

Contoh Ceramah Ramadhan Singkat, Praktis Dan Lucu

Ceramah ramadhan. Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, banyak hal yang kita lakukan akan bernilai ibadah, salah satunya adalah mendengarkan ceramah. Nah, bagi seorang penceramah tentunya harus memberikan ceramah ramadhan yang menarik para jamaah. Berikut ini macam-macam ceramah ramadhan  atau kumpulan teks ceramah:

Materi Ceramah Singkat

Contoh Ceramah Ramadhan Singkat Praktis Dan Lucu
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat Praktis Dan Lucu

 “Persiapan, Pengertian, Dan Amalan Bulan Ramadhan”

Tiada kata dan perasaan yang pantas kita lahirkan ketika menemui bulan suci Ramadhan kecuali dengan memuji Nya atas kenikmatan besar ini, dan tentunya dengan rasa senang.

Tidak sedikit manusia yang hari ini masih diberikan kedehatan, esoknya diberi cobaan sakit sehingga tidak bisa menjalankan dengan sempurna ibadah Ramadhan.

Persiapan Ramadhan

Untuk bisa meraih keistimewaaan dan keutamaan bulan ramadhan. Menjadi sangat penting bagi kita untuk melakukan berbagai persiapan untuk menyambutnya. Berikut beberapa persiapan yang kami kutip dari “panduan ibdah ramadhan” yang diterbitkan oleh IKADI.

  1. Persiapan ma’nawiyah (spiritual)
  2. Persiapan Fikriyah (akal)
  3. Persiapan jasadiyah (fisik) dan maaliyah (materi)

Pengertian Ramadhan

Fiqih Shiyam merupakan buku fiqih karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi yang khusus membahas puasa. Dalam buku ini disebutkan pengertian puasa secara bahasa (etimologi) dan secara istilah (terminologi).

Puasa dalam Al Quran dan Sunnah berarti meninggalkan dan menahan diri. Dengan kata lain menahan dan mencegah diri dari memenuhi hal-hal yang boleh meliputi keinginan perut dan keinginan kelamin dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedangkan pengertian puasa secara syar’i berarti menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum, berhubungan dan hal-hal sejenisnya selama sehari penuh yakni sejak munculnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat memenuhi perintah dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (sumber : bersamadakwah)

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah : 183)

Allah menyeru dengan panggilan iman. Sekali lagi, Allah menyeru dengan panggilan iman. Lalu, Allah menegaskan di akhir ayat ini Allah menegaskan tujuan akhir dari ibadah puasa yang telah diwajibkan ini, yaitu “agar kamu bertakwa.”

Sifat orang bertakwa adalah wara’ (berhati-hati). Ia selalu memuhasabahi dirinya sendiri. Setiap hendak melakukan atau mengucapkan sesuatu, ia akan berpikir apakah yang akan aku lakukan atau katakan ini baik atau tidak. Apakah itu bernilai dosa?

Kita berdoa, semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa mempertebal ketakwaan kepada Allah selama bulan Ramadhan ini. Bagi orang yang beriman, derajat takwa adalah impian tertinggi. Sebab orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Amalan Ramadhan

  1. Berpuasa
  2. Menghidupkan malam dengan shalat (qiyam Ramadhan)
  3. Berinfaq, bershodaqah, dan memberi buka puasa
  4. Banyak membaca Al-Quran
  5. Bertaubat
  6. Memperhatikan aktifitas sosial dan dakwah
  7. Meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir

Sumber (http://initu.id/ceramah-ramadhan-2018-hari-4-persiapan-pengertian-dan-amalan-bulan-ramadhan/)

BACA JUGA : Lagi Trend, model baju lebaran kekinian

Contoh Ceramah Ramadhan selanjutnya

Ceramah Singkat Tentang Sabar

Contoh Kultum Singkat Tentang Sabar

Bismillahirrrahmanirrahiim,

Assalamualaikum wa rahmatullahi wabarokatuh.

Pertama-tama, tidak bosan-bosan, marilah kita selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan pada kita, mulai dari nikmat yang kita anggap sepele sampai  nikmat yang kita anggap besar. Yang mana, apabila kita mau renungi lebih dalam, maka sesungguhnya nikmat Allah itu tidak ada yang sepele, semua menyimpan hikmah yang besar.

Kedua, semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada nabi akhir zaman, pemimpin para nabi, Nabi Muhammad SAW, yang telah berkorban, harta, waktu, hingga nyawa untuk menyebarkan islam, sehingga kita bisa merasakan indahnya iman dan islam, dan juga kepada keluarga, sahabat dan pengikutnya  hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Allah dan Rasul-Nya mengajarkan pada kita beberapa sikap dalam menjalani hidup agar hidup lebih terasa lapang dan menenangkan. Salah satu sifat yang dimaksud adalah sifat sabar. Sabar berasal dari bahasa arab yang berarti menahan diri, bila dimaknai dalam kehidupan sehari-hari, maka makna sabar sangat luas cakupan nya.

Yang ingin saya coba sedikit jelaskan disini adalah sabar dalam menghadapi cobaan. Apa saja yang harus dibangun dalam diri kita agar kita bisa bersikap sabar? Apa saja balasan bagi orang yang sabar dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala? Insya Allah akan kita bahas sedikit pada kultum singkat ini.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada dasarnya setiap yang bernyawa pasti akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu juga kita sebagai manusia yang oleh Allah dinaikkan derajatnya dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Ada beberapa ayat yang membuktikan bahwa kita adalah sebaik-baik ciptaan.

Allah berfirman dalam surat At-Tin ayat 4 yang berbunyi:

Artinya: “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Ayat diatas sudah cukup menjadi bukti bagi kita bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, bahkan dalam ayat yang lain kalau kita mau menelaah, dalam kisah nabi adam, akan kita dapati bahwa kita bisa menjadi makhluk yang lebih mulia dari malaikat.

Cukup pembahasan tentang ini, kita kembali kepada pembahasan awal. Jadi suatu keniscayaan bagi kita, sebagai makhluk yang paling baik diuji oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam beberapa ayat juga Allah menegaskan pada kita tentang keniscayaan ini. Pada surat Al-Baqarah Allah berfirman:

Artinya: “Ataukan kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sepeti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.

Nah, ini dia bentuk keniscayaan akan cobaan yang Allah berikan pada kita selaku hambanya semata-mata agar kita semakin tinggi derajatnya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kemudian apa kaitannya dengan sabar? Kaitannya adalah semakin kita sadar akan diri kita sebenarnya, maka semakin mudah bagi kita untuk bisa bersabar dalam menghadapi cobaan. Maka, langkah pertama agar kita bisa membangun sikap sabar dalam diri kita adalah dengan menyadari bahwasanya dimanapun kita berada, kapan pun waktunya pasti tidak akan pernah lepas dari cobaan.

Konteksnya ya kembali ke awal tadi, yaitu semata-mata untuk meningkatkan derajat kita dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Hal kedua yang harus kita tanamkan dalam mindset kita adalah, semua yang Allah tetapkan untuk kita sebagai hamba-Nya pasti baik. Semua yang Allah takdirkan untuk terjadi pada kita pasti semua bertujuan baik. Penyataan seperti ini mungkin agak sangsi di telinga hadirin sekalian, tapi dalam Al-Quran Allah memberitahu kita tentang perkara ini.

Allah berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 216 yang berbunyi:

Artinya:: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Dalam ayat ini Allah memberi tahu pada kita bahwa apa-apa yang kita senangi belum tentu itu baik bagi kita, begitu juga sebaliknya, dan apa-apa yang menurut kita baik belum tentu juga itu baik bagi kita, begitu juga sebaliknya. Kemudian terlintas dalam benak kita, kenapa bisa seperti itu?

Jawabannya adalah karena ilmu kita miliki sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Jadi, maka dari itu kita sebagai manusia harus selalu menanamkan dalam diri bahwa apa yang Allah beri, apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah baik.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dari beberapa pembahasan diatas, paling tidak ada 2 hal yang harus kita lakukan agar sifat dan sikap sabar ini ada dalam diri kita, yang pertama adalah, menyadari dengan hati bahwasanya kita sebagai makhluk-Nya tidak akan pernah lepas dari cobaan dan ujian. Cobaan dan ujian ini tidak lain dan tidak bukan semata-mata agar derajat kita tinggi disisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Yang kedua adalah, kita harus menanamkan mindset dalam pikiran dan hati kita bahwa apa yang Allah tetapkan bagi kita adalah baik, sehingga keyakinan kita akan pertolongan Allah akan selalu ada.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam Al-Quran, Allah memberitakan pada kita tentang balasan bagi orang-orang yang sabar. Beberapa ayat tentang ini ada dalam surat Al-Baqarah ayat ke 153 dan 155-157. Ayat ke 153 berbunyi:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.

MasyaAllah, nikmat apa lagi yang lebih besar selain dibersamai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah menjadi tujuan kita, menjadi penjaga kita. Maka dari itu, hendaklah kita berlatih untuk selalu bersabar dalam situasi apapun dan ridho terhadap apa yang Allah tetapkan untuk kita.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada akhir kultum singkat ini, saya mengajak hadirin untuk selalu berusaha bersabar atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita, dengan beberapa pembahasan diatas, semoga pikiran dan hati kita menjadi lebih lapang dan tenang dalam menerima apa-apa yang Allah takdirkan untuk kita.

Allahulmuwaafiq ilaa aqwamittoriiq

Wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh. 

Sumber (https://www.bagi-in.com/kultum-singkat-tentang-sabar/)

Lanjutan ceramah ramadhan

materi ceramah singkat / Materi Kultum Singkat Yang Menarik

“ Kultum Tentang IBU”

Assalamalaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh

Bismillahirahmanirahim,

Segala puji bagi Allah yang telah berkenan menganugrahi kita selaku  hamba-hamba-Nya dengan berbagai limpahan nikmat yang tidak akan pernah bisa kita hitung jumlah dan ukurannya. Sehingga maka dari itu, jangan sampai kita terlupa atau bahkan sengaja melupakan untuk selalu bersyukur atas apa yang Allah beri, bersyukur atas semua pemberian Allah itu hukumnya wajib.

Berapa banyak orang yang diberi nikmat melimpah kemudian kufur? Berapa banyak contoh yang Allah perlihatkan pada kita tentang nasib orang-orang yang kufur terhadap nikmatnya. Mulai dari Fir’aun hingga Abu jahal dan masyarakat kita pada umumnya. Maka, selalu lah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

Tak lupa, semoga sholawat dan salam selalu tercurah dan tersampaikan pada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW yang berkat perjuangan beliau, keluarganya dan para sahabatnya kita bisa merasakan nikmat manisnya iman dan islam, yang tidak akan mampu untuk ditukar dengan nikmat lain.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dewasa ini, kita sering terhenyak dengan kondisi masyarakat yang semakin hari sepertinya semakin mengkhawatirkan, baik dari segi sosialnya maupun individual.

Banyak kita dapati perkara-perkara yang dulu susah ditemui, sekarang bisa dengan mudah kita temui. Minuman keras merajalela, kekerasan meningkat, kesadaran masyarakat akan tanggung jawab rendah dan maraknya kasus seksualitas.

Beberapa hari belakangan kita juga terkejut dengan video seorang anak yang durhaka pada gurunya, anak yang durhaka pada orangtuanya. Menurut saya ini sudah keterlaluan. Orang-orang seperti ini harus mendapat penanganan khusus agar penyakit seperti ini tidak menyebar.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Maka dari itu saya akan membahas dalam kultum ini tentang bakti pada orangtua, terutama kepada ibu.

Agama islam secara global, menempatkan ketentuan-ketentuannya sesuai dengan logika akal manusia. Semuanya ada sebab akibatnya, semuanya ada alasan dan hikmahnya.

Nah, begitu juga dengan perkara bakti pada orangtua ini. Al-Quran memberi penjelasan pada kita tentang kenapa kita harus berbakti pada orangtua kita.

Pada surat Al-Isra’ dijelaskan bahwa sebab kita harus berbakti pada mereka adalah mereka sudah susah payah mengurus kita dari semenjak kita berada dalam kandungan, terutama seorang ibu yang mengandung. Kemudian setelah mengandung, beliau rela menyapih kita selam 2 tahun.

Mengurus segala keperluan kita, menenangkan ketika kita rewel, memeriksakan ke dokter ketika kita sakit, mengajari kita dengan ilmu-ilmu tentang kehidupan dan menjaga kita dari segala yang bisa mengancam keselamata anaknya.

Kalau mau dipikir dan direnungi, kurang apa kita? Maka dari itu, tepat kiranya Allah memerintahkan kita untuk berbakti pada orangtua kita dengan sebaik-baik bakti yang bisa kita berikan.

Ayat dalam surat Al-Isra’ itu berbunyi seperti ini:

Artinya: “Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali mengatakan ‘Ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapankanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Sangat jelas saya kira firman Allah diatas tentang berbakti pada orangtua.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bagaimana sebenarnya kita diperintahkan dalam memposisikan ayah dan ibu? Apakah kita hanya diperintahkan berbakti pada salah satunya saja? Atau apakah ada yang lebih utama diantara kedua orang yang sangat luar biasa ini?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, Rasulullah memberi kita petunjuk untuk menyikapinya. Sabda beliau terekam dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shahih mereka. Hadist itu berbunyi sepeti ini;

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadist diatas menjelaskan pada kita tentang mana yang lebih berhak atas kasih sayang dan pengabdian kita selaku anak. Dalam hadist dikatakan bahwa yang paling berhak adalah ibu kita. Perbandingannya 3:1. Maka ibu berhak atas pengabdian kita tiga kali lebih baik dibanding ayah kita. 

Artikel ceramah ramadhan  selanjutnya :
  • ceramah ramadhan singkat dan lucu,
  • kumpulan teks ceramah,
  • ceramah pendek,
  • materi kultum singkat yang menarik,
  • kumpulan ceramah ramadhan singkat dan praktis,
  • ceramah singkat tentang sabar,
  • teks ceramah lucu

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *