Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tua Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet?

Anda Suka? Klik atau Bagikan

Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tua Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet?

Tulisan “Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tua Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet” ini saya buat atas latar belakang cerita dari sebagian orang tua yang sedang konsultasi perkembangan anak saat pengambilan rapot di sekolah. Berikut gambarannya.

============ Pukul 06.00 =============
“Mas, ayo mandi setelah itu sarapan!” , ucap ibu
“ Mas, kok masih depan TV, ini sudah jam 06.10 loh”, ucap ibu ke 2 kali
“ sebentar bu”, jawab anak
“ Mas, sudah jam 06.15 loh, nanti terlambat”, ucap ibu ke tiga kali
Kemudian ibu datang tergopo-gopo sambil mendekati si anak, “ Ayo mandi!, nanti kalau tidak mau mandi saya tinggal di rumah”.
=================================

Itulah sedikit gambaran keadaan rumah saat pagi hari, orang tua hampir mengeluarkan pernyataan sekitar 4 kali baru anak mau melakukannya, saya yakin hampir sebagian rumah seperti itu. Nah, kini saatnya kita belajar bersama-sama mengapa terjadi seperti itu?.

Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tua Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet

Memang yang dilakukan orang tua yang selalu mengingatkan adalah tindakan bagus karena beliau tidak ingin anaknya NAKAL dan ketinggalan sekolah disebabkan malas mandi.

Namun, apakah kita tahu apa yang ada dalam benak si anak saat orang tua selalu berbicara begitu tiap pagi? Apakah anak akan mengulangnya kembali dikemudian hari? Tentu sebagian besar akan terulang kembali. ( Baca Juga : 7 Cara Mengetahui Penyebab dan Mengatasi Anak Nakal )

Lalu, apa yang menyebabkan anak mengulang kembali dan tidak mengindahkan pernyatan itu? Itu semua karena dalam dunia anak berbeda perspektif dengan dunia anak.

Berikut ini penyebab Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tua Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet:

  1. Si anak menganggap pernyataan pertama orang tua sebagai sebuah pendapat bukan sebuah perintah.
  2. Pernyataan ke pertama , ke dua dan seterusnya tidak dimbangi dengan tindakan orang tua untuk menghampirinya sehingga anak hanya menganggap itu sebuah permintaan pendapat pula.
  3. Si anak akan menganggap perintah itu hanya sebagai pernyataan, dia merasa orang tuanya tidak serius memerintahkannya karena beliau menegeluarkan perintahnya sambil melakukan kegiatan lain ( coba kita ingat, saat memerintah anak sebagian besar orang tua sambil masak, lihat TV, atau pegang HP hehehe).
  4. Karena pernyataan orang tua yang tidak dibarengi dengan tindakan itulah si anak menganggap orang tuanya sebagai seorang yang “ CEREWET”

Itulah penyebabnya Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tuanya Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet.

Nah, sekarang apa yang harus kita lakukan agar anak kita berubah lebih baik sehingga orang tua tidak dilabeli anak “CEREWET” dan pastinya si anak akan menurut kepada kita. Dari buku yang saya baca dan beberapa pengalaman orang tua, berikut ini beberapa langkah yang bisa kita (orang tua ) lakukan agar si anak bisa menurut:

  1. Buatlah jadwal harian yang disepakati bersama, sehingga kita lebih mudah mengingatkan karena ada bukti tertulis.

  2. Saat memintah atau mengingatkan anak melakukan kegiatan tertentu, posisikan tubuh orang tua sepadan dengan tubuh anak sehingga kita bisa bertatapan, karena anak akan merasa dihormati dan dihargai oleh orang tuanya.

  3. Merubah suara, yang biasanya dengan suara keras sebaiknya suara dikeluarga dengan normal seperti biasanya sehingga anak akan merasa nyaman.

  4. Menyatakan permintaan dengan kata-kata yang jelas tanpa bertele-tele ( mislanya: sambil menunjukkan jadwal, sudah jam 06.00 saatnya kamu mandi loh)

  5. Tetap tenang, walaupun hati sudah panas. (ambil nafas dalam-dalam sebelum menemui anaknya hehehe).

Itulah tulisan beberapa cara agar kita orang tua tidak dilabeli cerewet dan anak mau menurut pada kita. Semoga tulisan saya Mengapa Anak Tidak Menurut Pada Orang Tua Bahkan Menganggap Orang Tuanya Cerewet bisa membantu dalam kehidupan saya pribadi dan tentunya bagi kita semua amin.

Sumber tulisan :
* Pengalaman orang tua
* Cerita orang tua
* Refrensi buku bacaan

5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *